Pariwisata Sambas

Makam Kesultanan

BIOGRAFI SINGKAT SULTAN SAMBAS

1. Sultan Muhammad Tsafiuddin I (Murhum Sulaiman)

Kesultanan Sambas Islam pertama didirikan oleh seorang bangsawan dari kerajaan Brunai bernama Raden Sulaiman,beliau adalah putra pertama Raja Tengah Bin Sultan Muhammad Hasan. Raja Tengah adalah Sultan Serawak pertama yang dinobatkan oleh abangnya yang bernama Sultan Abdul Djalilul Akbar merupakan Sultan Brunai ke- 11. Sultan Abdul Djalilul Akbar memerintah kerajaan Brunai tahun 1598-1669 M, menggantikan ayahandanya Sultan Muhammad Hasan memerintah tahun 1582-1598 M merupakan Sultan Brunai ke-10.

Raja Tengah beristrikan Putri Surya Kesuma adik Panembahan Sukadana bernama Panembahan Giri Kesuma. Hasil perkawinannya, Raja Tengah dikaruniai 3 orang putra dan 2 orang putri. Anak yang tertua adalah Raden Sulaiman (dilahirkan di Sukadana pada hari Rabu 10 Syawal 1009 H. Setelah 3 tahun lamanya Raden Sulaiman berada di Kota Bandir, dan kemudian pindah ke Lubuk Madung. Di Lubuk Madung inilah Raden Sulaiman dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin I pada hari senin 10 Zulhijjah 1040 H, kemudian wafat pada hari Djum’at 10 Muharram 1080 H.

Raden Sulaiman beristrikan Putri Ratu Sepudak (Raja Sambas-Hindu) bernama Raden Mas Ayu Bungsu, di Kota Lama. Dari perkawinannya dengan Raden Mas Ayu Bungsu,Raden Sulaiman dikaruniai beberapa orang anak, diantaranya adalah Raden Bima (dilahirkan pada hari minggu, 1 Zulqaidah 1055 H,bergelar Sultan Muhammad Tadjuddin (Sultan Sambas ke-2). Meninggal pada hari jumat 5 Muharram 1081H atau 24 Mei 1670 M, Sri Paduka yang dipertuan agung wafat dalam usia 71 tahun. Baginda dimakamkan di sebelah utara Istana. Setelah wafat Baginda lebih dikenal dengan sebutan Murhum Sulaiman.

2. Sultan Muhammad Tadjuddin (Murhum Bima)

Sultan Muhammad Tadjuddin merupakan Sultan Sambas yang ke 2. Baginda memerintah Kerajaan Sambas dari tahun 1669-1708 M. Raden Bima adalah putra sulung Raden Sulaiman yang bergelar Sultan Muhammad Tsafiuddin I dengan permaisurinya Raden Mas Ayu Bungsu, Baginda dilahirkan di Kota Lama pada hari Minggu,1 Zulhijjah 1055 H. Diangkat menjadi Sultan Sambas ke 2 pada hari sabtu 11 Muharram 1080H dengan gelar Sultan Muhammad Tadjuddin I.

Baginda wafat pada hari Jum’at, 1 Syafar 1120 H dalam usia  65 tahun, Setelah wafat lebih dikenal dengan sebutan Murhum Bima. Murhum  Bima beristrikan Putri Indra Kesuma adik Sultan Zainuddin Panembahan Sukadana yang bernama Purti Indra Kusuma. Dari hasil pernikahanya pada hari Minggu 2 Rabiul Awal 1075/22 september 1664 M, Baginda dikaruniai beberapa putra dan putri, antaranya adalah Raden Milian (lahir pada hari minggu, 2 Rabiul Awal 1075 H di Sukadana, bergelar Sultan Umar Aqamaddin I (Murhum Adil).

3. Sultan Umar Aqamaddin I (Murhum Adil)

Raden Milian adalah putra Raden Bima yang bergelar Sultan Muhammad Tadjuddin dengan Putri Indra Kesuma yang merupakan adik dari Sultan Zainudin Penembahan Sukadana. Baginda dilahirkan di Sukadana pada hari Minggu, 2 Rabiul Awal 1075 H atau 22 September 1664 M.Beliau menjadi Sultan Sambas ke-3 pada hari Sabtu, 2 Syafar 1120 H dengan gelar Sultan Umar Aqamaddin I. Raden Milian beristrikan Utin Kumala, anak Raden Ratna Dewi Binti Sultan Muhammad Tsafiuddin I.

Baginda menjadi Sultan Sambas ke-3 selama 25 tahun dan wafat pada hari jum’at, 2 Rabiul Awal 1145 H, dalam usia 70 tahun. Beliau dikaruniai putra-putri,diantaranya adalah Raden Bungsu, menjadi Sultan Sambas Islam ke-4 dengan gelar Sultan Abubakar Kamaluddin (Murhum Bungsu).

4. Sultan Abubakar Kamaluddin (Murhum Bungsu)

Raden Bungsu adalah putra Raden Milian yang bergelar Sultan Umar Aqamaddin I dengan Ratu Agung. Baginda dilahirkan pada hari minggu 1 Rabiul Akhir 1110 H, digelar menjadi Sultan Sambas ke-4 pada hari sabtu 3 Rabiul Awal 1145 H menggantikan ayahndanya,dengan gelar Sultan Abubakar Kamaluddin. Baginda memerintah Negeri  Sambas selama 30 tahun dan wafat pada hari Senin 8 Rajab 1175 H dalam usia 65 tahun. Raden Bungsu beristrikan Pangeran Zainab dari perkawinannya Baginda dikaruniai diantaranya adalah Raden Jama’, digelar Sultan Umar Aqamaddin II (Murhum Jama’), Sultan Sambas ke-5.

5. Sultan Umar Aqamaddin II (Murhum Jama’)

Raden Jama’ adalah putra Sultan Abubakar Kamaluddin (Murhum Bungsu) dengan permaisurinya yang bernama Pangeran Zainab. Baginda dilahirkan pada hari Rabu, 3 Rajab 1143 H atau 11 januari 1731,dan diangkat menjadi Sultan Sambas yang ke-5 pada hari Selasa, 9 Rajab 1175 H  atau 2 Februari 1762 M dengan gelar Sultan Umar Aqamaddin II.

Baginda diangkat menjadi yang di pertuan Pada hari Rabu, 12 Rabiul Awal 1200 H, Baginda menyerahkan pemerintahan kepada putra mahkotanya Raden Gayung, dengan gelar Sultan Muda Achmad; Sultan Muda Achmad memerintah Negeri Sambas selama 7 tahun dan Baginda wafat pada hari Sabtu malam pada 15 Ramadhan 1207 H dalam usia 42 tahun.

Setelah Sultan Muda Ahmad wafat, pemerintahan Negeri Sambas dipegang kembali oleh Sultan Umar Aqamaddin II. Sampai akhirnya Baginda wafat pada hari Senin, 10 Zulkaedah 1216 H. Untuk menggantikannya, diangkatlah putranya yang bernama Raden Mantri dengan gelar Sultan Abubakar Tadjuddin I (Murhum Janggut). Sultan Umar Aqamaddin II (Murhum Jama’) mempunyai 6 orang istri, diantaranya anak-anaknya yang menjadi Sultan adalah:

  • Raden Gayung digelar Sultan Muda Achmad (Murhum Gayung) anak istri pertama I.
  • Raden Menteri digelar Sultan Abubakar Tadjuddin I (Murhum Janggut) anak istri ke dua.
  • Raden Sumba digelar Sultan Usman Kamaluddin (Murhum Usman) anakistri ke dua.
  • Raden Pasu digelar Sultan Muhammad Ali Trafiuddin (Murhum Anum) anak istri ke tiga.
  • Raden Semar digelar Sultan Aqamaddin III (Murhum Tengah) anak istri ke tiga.

 

6. Sultan Gayung gelar Sultan Muda Achmad Tajuddin.

Raden Gayung adalah putra Sultan Umar Aqamaddin II. Baginda dilahirkan pada hari Senin, 1 Sya’ban 1165 H,atau tanggal 14 Juni 1752, beristrikan Syarifah Aminah binti Syarif Muhammad Alayudrus. Diangkat menjadi Sultan Sambas ke enam menggantikan ayahndanya dengan gelar Sultan Muda Achmad Tajuddin pada hari Rabu, 12 Rabiul Awal 1200 H. Baginda memerintah Negeri Sambas selama 7 tahun dan wafat pada hari Sabtu, waktu Isya15 Ramadhan 1207 H dalam usia 42 tahun pada tahun 1793. Setelah wafat Baginda lebih dikenal dengan sebutan Murhum Gayung.

Saudaranya bernama Raden Menteri dilahirkan pada Jumat 10 Rajab 1169 H bertepatan dengan tanggal 11 April 1756, dikenal juga dengan nama Raden Janggut Sultan Abubakar Tajudin I, dilahirkan pada hari Sabtu 3 Muharram 1181 H bertepatan dengan tanggal 1Juni 1767. Raden Samba’ gelar Sultan Usman Kamaluddin dilahirkan pada hari Kamis 2 Zulkaedah 1184 H bertepatan dengan tanggal 16 Februari 1771. Raden Semar yang diberi gelar Sultan Umar Akamuddin III, Sultan Umar Aqamuddin II telah turun tahta kesutlanan dan menyerahkannya kepada puteranya Raden Gayung yang dikenal dengan nama Sultan Achmad Tajuddin. Namun tidak lama memerintah ia wafat pada hari Minggu 15 Ramadhan 1207 H bertepatan dengan 23 April 1793. Oleh karena tidak mempunyai keturunan, maka tahta kerajaan Sambas digantikan oleh adiknya Raden Mentri (Raden Janggut) dengan gelar Sultan Abubakar Tajuddin I.

7. Sultan Abubakar Tadjudin I (Murhum Janggut)

Raden Mantri adalah putra kedua Sri Paduka Baginda yang di pertuan SultanUmar Aqamaddin IIdengan permaisurinya bernama Mas Siti binti Pangeran Mangku anak Raden Ratna Kumala binti Sultan Muhammad Tadjuddin.Raden Mantri dilahirkan pada hari Jum’at, 10 Rajab 1169 H. Baginda diangkat menjadi Sultan Sambas ke-7 menggantikan ayahndanya pada hari Selasa, 11 Zulqaidah 1216, dengan gelar Sultan Abubakar Tadjuddin I.

Baginda memerintah Negeri Sambas selama 13 tahun sampai akhirnya Baginda wafat pada hari Kamis malam, 20 Ramadhan 1229 H di hutan di daerah Gunung Senujuh dalam usia 60 tahun, sewaktu melarikan diri dari gemparan tentara Kerajaan Inggris yang menyerang Kerajaan Sambas karena ulah adiknya. Pangeran Anom yang menenggelamkan kapal Kerajaan Inggris. Sedangkan Pangeran Anom sendiri pada waktu itu menderita sakit dan sedang beristirahat di Serawak. Untuk menggantikannya memimpin Kerajaan Sambas ditunjuklah Pangeran Muda yaitu putra Pangeran Anom, sampai akhirnya Pangeran Muda tewas dalam pertempuran tersebut. Setelah wafat Raden Mantri lebih dikenal dengan sebutan Murhum Janggut.

8. Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin 1

Raden Pasu adalah putra Sultan Umar Aqamauddin II dengan permaisurinya yang bernama Mas Ayu. Baginda dilahirkan pada hari Sabtu, 3 Muharam1181 H, diangkat sabagai putra mahkota setelah Sultan Muda binti Sultan Abubakar Tadjudin I meninggal dan tidak meninggalkan anak laki-lakinya.Baginda diangkat menjadi Sultanke 8 pada hari Sabtu,1Muharam1231 H tiga tahun setelah abangnya Sultan Abubakar Tadjudin I wafat dihutan sewaktu melarikan diri dari serangan Inggris. Sebenarnya serangan Inggris tersebut adalah dalam rangka pembebasan Inggris terhadap Raden Pasu atau yang lebih dikenal dengan sebutan pangeran Anom. Sewaktu  mudanya, sebelum Baginda diangkat sebagai putra mahkota, Baginda adalah seorang pengeran bendahara seni maharaja wazin  pertama di Kerajaan Sambas.

Menurut versi Inggris, Pengeran Anom  adalah seorang lanun, sedangkan menurut versi Belanda Pangeran Anom adalah komandon angkatan laut Kerajaan Sambas, karena kerajaan Sambas merupakan kerajaan muara sungai yang menjadikan sungai sebagai alat transportasi utama. Jadi, diperlukan pasukan angkatan laut yang selalu mengatasi kegiatan di sekitar Kerajaan Sambas.

Pangeran Anom diangkat menjadi Sultan Sambas yang ke-8 dengan gelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I. Baginda memerintah Negeri Sambas selama 13 tahun dan wafat pada hari Minggu malam, 2 Muharram 1244 H dalam usia 63 tahun. Setelah wafat lebih dikenal dengan sabutan Murhum Anom.

9. Sultan Usman Kamaluddin

Raden Sumbu adalah putra Sultan Umar Aqamaddin II Baginda dilahirkan pada hari Kamis, 2 Zulqaidah1184 H, Baginda diangkat sebagai wakil Sultan menunggu panggeran Ratu Nata Kusuma Bin Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I dewasa pada hari Minggu, 2 Muharram 1244 H dengan gelar Sultan Usman Kamaluddin. Baginda memerintah Negeri Sambas sebagai Sultan ke 9 selama 7 tahun, Baginda wafat pada Rabu malam 7 Ramadhan  1247 H, dalam usia 63 tahun. Setelah wafat, lebih dikenal dengan sebutan Murhum Usman.

10. Sultan Umar Aqammaddin III

Raden Semar adalah putraSultan Umar Aqammaddin II dengan permaisurinya Mas Ayu. Baginda adalah wakil Sultan sementara menantiputra mahkota Pengeran Ratu Nata Kusuma bin Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I dewasa. Baginda diangkat sebagai Sultan Sambas ke sepuluh pada hari Jumat 8 Ramadhan 1247 H dengan gelar Sultan Umar  Aqamaddin III. Baginda memerintah Negeri Sambas selama 16 tahun  dan wafat pada  Sabtu malam, 1 Muharram 1263 H dalam usia 75 tahun setelah wafat lebih dikenal dengan sebutan Murhum Tengah.

11. Sultan Abubakar Tadjudin II

Raden Ishak adalah putra Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I dengan permaisurinya bernama Urai  Pira’. Baginda dilahirkan pada hari selasa,7 sya’ban 1237 H diangkat sebagai Sultan Sambas pada hari Senin 2 Muharram 1263 H atau bertepatan 23 Desember 1846 M dan mengikat kontrak dengan pemerintahan Belanda pada 7 November 1848 M. Selama pemerintahannya, telah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh kongsi-kongsi pertambangan emas Cina. Pemberontakan itu sampai keseluruh pelosok-pelosok yang ada pertambangan emasnya di Kerajaan Sambas.  Baginda tidak mampu lagi mempertahankan negeri, akhirnya untuk meredam pemberontakan tersebut, Baginda meminta bantuaan tentara Belanda. Setelah pemberontakan kongsi Cina diredam dan tentara, kemudian timbul pemerintahan antara keluarga Sultan yaitu kelompok pedalaman  yang diketuai oleh Baginda sendiri dengan  kelompok seberang diketuai oleh pangeran Mengku Neraga Toko’.

Untuk menghindari jangan sampai pertikaian tersebut berlarut-larut sehingga bisa menjelaskan kestabilan keamanan kerajaan maka Baginda Sultan Abu Bakar Tadjuddin II kepada Belanda. Pada waktu itu putra mahkota pengeran Adipati Alifuddin masih kecil belum dapat untuk memegang tempat pemerintahan  Kerajaan Sambas. Maka pada tahun 1855 M Sultan Abubakar Tadjuddin  II mengangkat pengeran Mengku Negara Toko’ sebagai wakil Sultan menunggu pangeran Adipati Afifuddin dewasa,  dengan gelar Sultan Umar Kamaluddin. Setelah melakukan penobatan Pangeran  Mengku Negara Toko’ sebagai Sultan Sambas  yang ke -12, Baginda pun berangkat ke Cianjur untuk memenangkan diri disana. Baginda baru kembali ke Sambas pada tahun 1873 M.  Setelah di jemput oleh anaknya pangeran Adipati Afifuddin yang setelah  menjadi Sultan bergelar Sultan Muhammad Tsafiuddin II. Baginda wafat di Sambas pada hari Sabtu  4 Mei 1889 M dalam usia 69 tahun 25 hari.

12. Sultan Umar Kamaludin

Raden Toko’ adalah putra sltan Umar Aqamaddin III ( Murhum Tengah) Baginda diangkat menjadi Sultan Sambas mengantikan Sultan Abubakat Tajuddin II yang naik tahta dan berangkat ke Pulau Jawa. Sementara putra mahkota Pangeran Adipati Afifuddin masih belum dewasa , untuk menunggu pangeran Adipati Afifuddin dewasa dan selesai sekolah, maka diangkatlah pangeran Mengku Negara Toko’ menjadi wakil Sultan pada tanggal 10 Mei 1853 M dengan gelar Sultan Umar Kamaluddin.
Sultan Umar Kamaluddin merupakan Sultan Sambas yang ke-12 memerintah Negeri Sambas  sampai tahun 1866 M.

13. Sultan Muhammad Tsafiuddin II (Datuk Tua)

Raden Afifuddin adalah putra Sultan Abubakar Tadjudidin II dengan permaisurinya Ratu Sabar. Baginda dilahirkan pada subuh Kamis tanggal 3 Syawal 1257 H atau 18 November 1841 M. Diangkat sebagai putra mahkota usia 7 tahun yaitu tanggal 17  Januari 1848 M dengan gelar Pengeran Adipati. Sewaktu di Batavia, Baginda tinggal di rumah  Syarif Abdul Kadir untuk diberi pendidikan oleh Belanda. Sementara ayahnya dipindahkan ke Cianjur. Setelah beberapa tahun di Batavia, Baginda dipindahkan ke Kabupaten Galuh yaitu di Ciamis. Pada tanggal 5 April 1861 M Baginda diangkat menjadi Sultan Muda, kemudian tanggal 6 Agustus 1866 M Baginda diangkat menjadi Sultan Sambas yang ke-13 dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin  II mengantikan Sultan Umar Kamaluddin yang telah menjadi wakil Sultan selama 19 tahun. Baginda mempunyai seorang permaisuri bernama Raden Khalijah binti Kesuma Ningrat dan seorang selir bernama Enei Nauyah digelar Mas Sultan. Baginda memerintah negeri Sambas selama 56 tahun dan  wafat pada tanggal 12 September 1924M dalam usia 83 tahun.

14. Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin

Raden Muhammad Ariadiningrat adalah putra Sultan Muhammad Tsafiuddin II dengan selirnya yang bernama Enci’ Nauyah binti haji Muhammad Aria Maharaja Imam Kerajaan Sambas, bergelar Mas Sultan. Baginda diangkat sebagai wakil Sultan menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Tsafiuddin II yang meletakan jabatannya karena faktor usia yang tidak memungkinkan lagi untuk menguasai pemerintahan Kerajaan Sambas. Sedangkan putra mahkota dari Pangeran Adipati Ahmad yang bernama Raden Muhammad  wakil Ibrahim yang bergelar Pangeran Ratu Nata Wijaya masih kecil. Untuk menunggu putra mahkota dewasa maka diangkatlah Raden Muhammad Ariadiningrat menjadi wakil Sultan pada tanggal 14 Rabiul Akhir 1341 H atau 4 Desember 1922 dengan gelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II merupakan Sultan Sambas yang ke-14. Baginda memerintah Negeri Sambas hanya 2 tahun saja karena Baginda wafat pada 1 Rabiul Akhir 1345 atau 9 Oktober 1926 M dalam usia 54 tahun.

15. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiudin

Raden Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiudin adalah putra pengeran Adipati Ahmad bin Sultan Muhammad Tsafiuddin II dengan permaisurinya Utin Iatri  Binti panembahan Muhammad Ibrahim Raja Mempawah. Baginda diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar pengeran Ratu Nata Wijaya menggantikan ayahnya pengeran Adipati Ahmad yang wafat pada tahun 1916  sebelum sempat menjadi Sultan. Baginda diangkat menjadi Sultan pada tanggal 2 mei 1931 M dengan gelar Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin merupakan Sultan Sambas yang ke-15. Baginda memerintah Negeri Sambas selama 13 tahun, dan pada tahun 1943 M bersama dengan mertuanya pengeran bendahara Sri Maharaja Muhammad Tayeb dan para petinggi serta kaum cerdik pemuda Kerajaan Sambas dibantai oleh tentara pendudukan Jepang.

DENAH MAKAM KESULTANAN SAMBAS

Denah Makam-makam Sultan-Sultan Sambas dari Sultan Sambas ke-1 yaitu Sultan Muhammad Shafiuddin I hingga Sultan Sambas ke-14 yaitu Sultan Muhammad Ali Shafiuddin II sedangkan satu-satunya Makam Sultan Sambas yang tidak berada di Kota Sambas adalah Sultan Sambas ke-15 yaitu Sultan Muhammad Ibrahim Shafiuddin karena terbunuh di daerah Mandor oleh tentara jepang bersama seluruh Raja-Raja lainnya yang ada di Kalimantan Barat.

Sumber :

https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/kalimantan-4/sultan-of-sambas/

https://plus.google.com/105945402566221202075/posts/2fGRoFeYkiT

https://roemahgergasi.wordpress.com/tentang-singkawang-dan-melayu-nya/sultanate-of-sambas/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *